PA : Yesaya 42:6-7 : “Komunitas yang terluka, komunitas yang menyembuhkan”

Memberdayakan Sumber Daya Insani dalam rangka menyejahterakan persekutuan, pelayanan dan kesaksian (Tema Tahun 2016-2017)

 

Oleh : Margie Ririhena de Wanna

Pendahuluan

Saya diminta oleh Majelis Sinode GPIB  XX untuk menyorot teks Yesaya 42 :6-7 yang merupakan tema tahun 2016-2017 ini dari perspektif ekklesiologi, sebuah pendekatan yang  terkait dengan isu-isu publik yang harus diwacanakan sebagai suatu persoalan gereja dan iman. Isu teologi dan publik perlu diidentifikasi agar ekklesiologi menjadi sesuatu yang fresh, selalu mengalami penyegaran dan dialektika kontekstualisasi tanpa henti.

Judul tema PA kali ini saya sadur dari judul tulisan Henri Nouwen, The Wounded Healer (yang sudah diterjemahlan dalam bahasa Indonesia dan diberikan judul Yang terluka, yang menyembuhkan) dan PA  Gerrit Singgih yang berjudul penyembuh yang terluka dalam seminar agama-agama Balitbang PGI di Salatiga tahun 2000. Judul buku dan tema PA tersebut telah menginspirasi saya ketika menulis PA ini, sembari melihat dan merasakan keterhubungan konteks buku Nouwen yang mengalami keterasingan dan kesepian karena perkembangan tekhnologi yang berkembang pesat pada satu sisi dan pada sisi yang lain konteks gereja di Indonesia yang terluka yang berjuang mengatasi   bencana kemanusiaan yaitu kekerasan, kemiskinan, ketidakadilan gender, fenomena ISIS, kerusakan ekologi, pelanggaran HAM, korupsi, HIV AIDS dan berbagainya.   Dalam spirit komunitas yang terluka sekaligus yang disembuhkan dan  menyembuhkan kita membaca teks Yesaya 42 :6-7 yang tentunya perlu dibaca dalam perikop yang utuh yaitu dari ayat 1-9 pada pasal 42 ini.      

Persoalan Teks, Identitas Hamba Tuhan dan Strukturnya

Yesaya 62:6-7 adalah bagian dari nyanyian Hamba Tuhan dan lebih khusus lagi adalah bagian dari nyanyian Hamba Tuhan yang pertama (Yesaya 42:1-9). Pertanyaan awal yang muncul terhadap teks-teks hamba Tuhan dalam deutero Yesaya ini  adalah siapakah Hamba yang dimaksud? Apakah dia seorang pribadi, dalam hal ini nabi, raja atau kelompok dalam hal ini menunjuk umat Isreal?  Beberapa penafsir berupaya untuk menafsirkannya tetapi belum juga memiliki kata sepakat tentang hamba yang dimaksud. North mengatakan bahwa tidak mudah untuk menjawab pertanyaan tentang siapakah hamba Tuhan itu karena bagian teks ini mengalami kerusakan secara serius yang menyebabkan ketidakjelasan pada pengertian aslinya.[1] Sekalipun demikian ada upaya untuk mencoba memahami siapakah sesungguhnya yang dimaksudkan oleh perikop ini.  Hamba di dalam deutero Yesaya adalah tokoh anonim yang tidak memiliki identitas khusus yang diberikan kepadanya sebagaimana layaknya tokoh-tokoh lain dalam kitab suci, kecuali satu sebutan yang dikenakan kepadanya yaitu abdi “hambaku”, dalam sebuah perikop yang bentuk sastranya merupakan orakula dari Allah Israel kepada sang nabi.[2]   Apakah 4 tokoh dalam nyanyian hamba Tuhan tersebut adalah sama atau berbeda, juga tidaklah mudah untuk ditemukan jawabannya, ada baiknya kita memperhatikan usulan Claus Westerman yang mengalihkan pertanyaan dari “siapa” ke “apa”. Kemudian ada baiknya kita memperhatikan struktur dari deutero Yesaya ini, yaitu :

  1. Ayat 1-2 merupakan perkataan Allah yang memperkenalkan hamba yang dipilihNya
  2. Ayat 5-9 merupakan perkataan hamba yang berbicara atas nama Allah

Ayat 1 : Diawali dengan perkataan yang lazimnya disampaikan ketika Allah memilih seseorang untuk melakukan tugas khusus menjadi hambaNya, misalnya ketika Saul diperkenalkan Allah kepada Samuel untuk dilantik dan diurapi menjadi raja  (1 Samuel 9:15-17). Keterpilihan orang itu adalah karena perkenaan Allah atas dirinya, bukan atas pertimbangan manusia (perhatikan juga kisah pemilihan dan pengurapan Daud diantara saudara-saudaranya). Allah memberikan diri dan semangat kepada orang yang dipilihNya, yang berarti kepada orang tersebut  diberikan kemampuan, kekuatan bahkan kepercayaan khusus. Hal itu diberikan dalam rangka memperlengkapi orang tersebut melaksanakan tugasnya (bandingkan para pemimpin Israel yang disebut sebagai hamba Tuhan karena menjalankan rencana Tuhan, Hakim2 3:10, 6:34, 1 Sam 11:16, 16:13 dsb) tetapi juga agar orang tersebut membawa Mishpat lagoyim. Kata Mishpat lagoyim diterjemahkan dengan keadilan kepada bangsa-bangsa. Konteks munculnya kata ini juga beragam, mulai dari adat, kebiasaan, praktek keagamaan (1 Raja2 6:38, 2 Raja2 7:26, Yeremia 5:4, 30:18) sampai peraturan ( Kejadian 40:13, 1 Raja2 5:8, 2 Raja2 11: 14, Yeremia 8:7).[3]

Beberapa penafsir mengartikan kata Misphat lagoyim sebagai berikut :

  1. Menggambarkan apa yang telah Tuhan perbuat bagi umat yang diselamatkanNya, pemulihan Israel adalah tanda bahwa misphat Allah diwujudkan, tidak ada pembalasan kepada bangsa-bangsa, pemulihan ini juga merupakan bukti dari pemilihan Israel (ayat 1b). Apakah ini berarti bahwa yang dimaksud menunjuk pada Israel secara keseluruhan dan bukan individu? Mungkin demikian jika dihubungkan dengan Yesaya 41:8-10 yang menyebut 2 orang datuk Israel, yang merupakan representasi dari umat Isreal secara keseluruhan.
  2. Menggambarkan apa yang telah Tuhan perbuat untuk membela umatNya, dalam hal ini merujuk pada pelaksanaan keadilan atas apa yang diperbuat oleh bangsa-bangsa terhadap Israel. Tugas hamba dalam kaitan dengan Misphat lagoyim adalah mengembalikan neraca keadilan pada tempatnya dengan jalan melakukan pembalasan kepada bangsa-bangsa yang menjadi musuh Israel. Pandangan deutero Yesaya ini agak berbeda dengan nabi sebelumnya yaitu Yeremia yang menganggap Tuhanlah yang menghukum dan membawa Israel ke dalam pembuangan dan bangsa-bangsa lain yang menyerbu serta mengalahkan Israel adalah alat yang turut dipakai Tuhan untuk mewujudkan hukuman ini.

Jika saya harus memilih diantara dua pikiran para penafsir di atas, maka saya cenderung untuk memilih arti yang pertama, yaitu  misphat lagoyim menunjuk pada apa yang telah Tuhan perbuat bagi umatNya. Bahkan keadilan Allah itu justru nampak pada saat Ia menyatakan perhatianNya dan memulihkan umat dari keadaan yang menderita, terpuruk dan sengsara.

Ayat 2-4 : Ayat-ayat ini menggambarkan model yang dipilih oleh hamba Tuhan dalam menjalankan tugasnya, Ia tidak akan berteriak dan menyaringkan suara atau memperdengarkan suaranya di jalan. Ada beberapa kata Ibrani yang dipakai untuk mengartikan kata “cry” berteriak yaitu Zeaqa yang menunjuk pada orang yang berada pada keadaan yang paling susah (Kejadian 27:34, Keluaran 3:7,9, Nehemia 9:9), Sewaha (Mazmur 144:14, Yeremia 14:2, 46:12) yang mengandung makna yang sama dengan Zeaqa : Su(a) Ayub 30:24, 36:19 atau Sawa Keluaran 2:23, 1 Samuel 5:12, Mazmur 18:6 berteriak minta tolong, Renana (ayub 3:7) teriakan/suara kegirangan.[4]

Kata yang digunakan dalam teks ini adalah yizeaq, yang berarti si hamba tidak akan berteriak seperti orang yang sedang susah. Menurut Whybray, kata ini merupakan gambaran bahwa dalam mengatasi panggilannya sihamba tidak mengeluh.[5]  Kesusahan, kesulitan dan penderitaan adalah bagian dalam perjalanan hidup manusia, tetapi pada bagian ini sihamba tidak menunjukkan itu. Bukan pula berarti sihamba tidak mengalaminya, tetapi justru menunjuk pada sikap hamba yang tidak menonjolkan penderitaan yang dialami, dengan cara bertahan di tengah derita  yang dialami. Ini merupakan kesaksian tetapi juga misi dari si hamba.

Bulu yang patah terkulai tidak akan diputuskannya dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya, tetapi dengan setia ia akan menyatakan Misphat.

Kalimat di atas mengandung makna bahwa Misphat lagoyim tidak akan disertai dengan penghakiman. Di Babel hakim menyampaikan keputusan bukan hanya dengan perkataan, tetapi juga memakai perbuatan simbolis, agar mereka yang tidak mampu menangkap bahasa yang tinggi dapat memahaminya melalui simbol-simbol. Misphat di jalankan tanpa penghakiman, si hamba sendiri tidak menjadi pudar dan tidak akan patah terkulai, sampai ia menegakkan Misphat di bumi, ia tidak akan menyerah dan undur sampai tujuannya tercapai.

Ayat 5-6 : Nabi memulai ayat ini dengan rumusan : Firman Allah, yang menciptakan langit. Jika melihat rumusan ini, nampaknya ada kemiripan dengan kisah penciptaan dalam kejadian 1 dan 2. Para penafsir ada yang langsung menghubungkan kalimat : Demikianlah Firman Sang Allah. Kata Tuhan dengan Kejadian 1, sedangkan kalimat : Yang menciptakan langit dan membeberkannya, yang merentangkan bumi, dengan kejadian 2. Ada baiknya kita menguji  kesimpulan para penafsir tersebut  dengan mengacu pada kata raqa dan nata. Dalam ayat ini kata raqa dihubungkan dengan bumi sedangkan di dalam kisah penciptaan (kejadian 1) dihubungkan dengan cakrawala (langit). Kata nata tidak disebutkan dalam kejadian. Allah yang akan membawa Israel keluar dari pembuangan diperkenalkan pada bagian ini sebagai Allah yang menciptakan langit dan bumi. Di dalam ibadah Israel pra pembuangan , Allah dipuji sebagai Allah pencipta, tetapi tidaklah demikian dalam praktek-praktek ibadah di luar bait suci. Justru Allah dilihat sebagai Allah exodus, yang membawa Israel keluar dari perbudakan di Mesir. Persoalannya adalah mengapa konsep Allah pencipta langit dan bumi dimunculkan pada saat Israel hendak keluar dari pembuangan ? Kemungkinan karena nabi ingin menggambarkan keadaan Israel di pembuangan adalah keadaan yang hancur, jadi dengan melukiskan Allah sebagai pencipta berarti Allah akan mengubah lagi keadaan Israel seperti ketika penciptaan dari keadaan yang kacau menjadi teratur dan tertata secara baik. Walaupun agak sulit dibenarkan di sini ketika membandingkannya dengan kondisi yang dialami oleh Israel di pembuangan, di mana pada saat harus kembali banyak diantara mereka yang memilih untuk tetap tinggal di sana karena terjamin hidupnya. Namun mungkin yang dimaksud di sini adalah saat awal ketika mereka terpaksa harus meninggalkan negeri, tanah mereka dan dibawa ke pembuangan. Kehidupan Israel sangat tergantung pada tanah, sehingga ketika kehilangan tanah, seolah hancur hidup mereka. Kata roka yang diterjemahkan dengan yang mengembangkan, menurut Whybray itu merupakan metaphore yang diambil dari pekerjaan pembuat/tukang emas (band. Pasal 40:19).[6] 

Soal nama Allah yang digunakan di sini, kata Yahweh, ditempatkan beriringan dengan kata ha’el. El adalah sapaan yang umum dipakai di Israel. Mengapa justru di saat Israel mau kembali dari tanah pembuangan sapaan ini dimunculkan ? Apakah ini memiliki keterkaitan dengan peran bangsa Israel di tengah bangsa-bangsa secara umum? Pertanyaan ini akan terjawab apabila melihat pada ayat 6. Hamba akan menjadi berith am dan terang bagi bangsa-bangsa. Ini misi yang harus dilakukan oleh hamba Yahweh. Kata berith pada ayat 6 adalah kata yang jarang dijumpai dalam kitab Yesaya (hanya 4 kali dalam pasal 40-55 : 42:6, 49, 54:10, 55:3).  Kata berith am diparalelkan dengan leor goyim, suatu hal yang jarang dijumpai, itu berarti Am yang biasanya tidak dipakai untuk umat manusia secara keseluruhan tetapi pada Israel secara khusus sebagai umat Allah, diperluas menjadi umat manusia secara umum, karena am diparelelkan dengan goyim.

Pada umumnya berith diterjemahkan perjanjian, persoalannya adalah bagaimana berith diartikan dalam konteks ayat 6 ini? Berith menunjuk pada hubungan Allah dengan Israel, ada aturan-aturan khusus yang dibangun dalam rangka menjaga relasi itu, berith mengungkapkan karya Allah yang dinyatakan kepada umatNya. Jika dalam konteks ini hamba itu diminta untuk menjadi berith am, maka itu berarti bahwa hamba (Israel) diminta oleh Allah untuk menjadi model dari apa yang terjadi diantara Allah dan dunia.[7]

Ayat 7-8 : Ada beberapa editor yang menunjukkan subjek dari ayat 7 ini adalah Yahweh atau seseorang yang dialamatkan pada ayat 6.[8] Namun jika dibandingkan dengan ayat-ayat sebelumnya, hamba yang dimaksudkan di sini adalah Israel sebagai suatu bangsa. Apa yang dimaksudkan di sini adalah tugas dalam kaitan dengan  misi yang mesti dijalankan oleh si hamba Yahweh yaitu membuka mata yang buta. Orang buta berarti orang yang tidak dapat melihat apa-apa, tidak mampu menentukan langkahnya sendiri sehingga perlu dipandu/ditolong oleh orang lain. Orang buta juga berarti berada dalam gelap, berada dalam masa-masa suram. Apabila itu dihubungkan dengan pembuangan di mana Allah telah membawa Israel keluar dari pembuangan, membebaskan mereka dari masa suram,  maka hal itu juga harus dilakukan oleh  Israel sebagai hamba Yahweh bagi yang lain, mereka  harus menjadi mediator keselamatan yang memberikan pencerahan dan membebaskan bangsa-bangsa yang lain.[9]

Ayat 8-9 : Pada bagian ini Allah memperkenalkan dirinya : Aku adalah Tuhan, bagian ini adalah bagian yang lazim muncul dalam kitab deutero Yesaya dan kitab Mazmur.[10] Nama dan pribadi yang menyandang nama itu adalah satu dan tidak dapat dipisahkan, nama adalah identitas yang sangat signifikan. Israel mengenal nama Tuhannya sehingga mereka membangun relasi yang khusus dengan Tuhannya. Walaupun demikian ada makna universal di sini bahwa Tuhan adalah Tuhan atas seluruh bumi.  Ungkapan Aku adalah Tuhan (dalam deutero Yesaya) mengandung arti bahwa Tuhan yang sama dan benar adalah Yahweh, pada bagian akhir dikatakan gubung-gunung, berarti bahwa Yahweh melebihi dewa-dewa sesembahan orang Babel, penegasan ini dikatakan pada ayat 9 yang menggambarkan Allah bukan hanya pencipta langit dan bumi tetapi juga berkuasa atas sejarah.

Makna Komunitas yang menjadi penyembuh yang terluka

Di atas kita telah melihat usaha panjang-lebar untuk menafsirkan Hamba Tuhan di dalam teks Yesaya 42:6-7 di dalam kesatuan pada ayat 1-9. Makna kolektif hamba Tuhan dalam teks ini dapat dikaitkan dengan komunitas kristiani/gereja di Indonesia. Dalam arahan ketum MS XX, digambarkan konteks Indonesia dengan isu-isu sosial yang beragam,  semisal persoalan budaya/kultur (lokal maupun pop), pluralisme, keadilan, kesetaraan gender, HAM, MEA, radikalisme, narkoba/zat-zat adiktif, pemiskinan dan ekologi, di mana gereja berada dalam konteks demikian perlu mengambil sikap atasnya. Saya setuju dengan apa yang dikatakan Gerrit yang menyatakan bahwa sikap yang tepat adalah menjadi penyembuh yang terluka.[11]  Gereja tidak dapat lagi mengambil posisi pendamping yang kuat dalam menghadapi kelompok masyarakat yang lemah karena pertama, dalam realitasnya gerejapun bersama-sama masyarakat adalah korban dari situasi yang dihadapi, kedua, sebagai korban, Israel telah disembuhkan   Allah, karena itu ia terpanggil untuk menyembuhkan sesama yang berada dalam situasi yang sulit dan berat, gereja telah menjadi berith am atau perjanjian bagi bangsa-bangsa.

Dalam konteks ini ekklesiologi sebagai identitas gereja telah dibangun dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultur.  Israel sebagai hamba Yahweh  bagi yang lain, mereka harus menjadi mediator keselamatan yang memberikan pencerahan dan membebaskan bangsa-bangsa yang lain, mengajar Israel untuk menjadi inklusif dengan membangun kesadaran akan adanya sang liyan/masyarakat, yang lebih menderita dari Israel dan karena itu bersama-sama berjuang mengatasi penderitaan sebagai agency.

Ekklesiologi multikultural  adalah cara menggereja yang menempatkan orang-orang yang berbeda kultur maupun agama dan aliran kepercayaan sebagai sesama yang sedang berada dalam peziarahan bersama menuju kepada Sang Ilahi. Kesadaran ini membuat gereja terbuka melihat masa depan bersama yang lebih baik sebagai tanggungjawab bersama. Gereja menjadi sahabat seperjalanan dalam dunia yang berhadapan dengan konteks multikultur,  kemiskinan, PHK, ketidakadilan gender, fenomena ISIS/radikalisme, Ekologi, percepatan daerah tertinggal, perkembangan  masyarakat kota dan industri, serta bonus demografi. Dibutuhkan model-model penanganan komunitas multikultur sebagai sebuah tindakan ekklesiologi, sehingga gereja mempersiapkan agency, dalam hal ini SDI  yang siap mengerjakannya.

Agency/SDI dalam ekklesiologi bukanlah hal yang benar-benar baru saya kemukakan, sebaliknya  sudah pernah dibahas oleh Maitimu ketika ia membahas apa yang ia sebut sebagai Pembinaan Jemaat Misioner. Konsep agency oleh Maitimu, menempatkan setiap anggota jemaat wajib menjadi agency proklamasi Injil atau sebagai pekabar Injil. [12] Proklamasi Injil yang dimaksudkan oleh Maitimu adalah bagaimana gereja hadir dan memberitakan Injil di semua lini kehidupan, baik di bidang pekerjaan seperti industri, khotbah, percakapan-percakapan pastoral, katekisasi, pendidikan agama, ibadah-ibadah jemaat, penghiburan orang duka dan  pekerjaan-pekerjaan rutin jemaat setiap hari. Ia menegaskan, bilamana gereja-gereja sungguh-sungguh memahami tugas dan kewajiban missioner terhadap urusan apapun di dunia, gereja harus memasuki dunia sebagai suatu persekutuan pekabar injil, diperlukan iman yang tangguh.[13] Maitimoe  menyinggung  Agency dalam konsep Maitimu adalah gerakan yang dilakukan oleh semua anggota jemaat sebagai pewarta Injil. Pertanyaan evaluatifnya adalah, siapakah yang menerima pewartaan injil itu? Apakah yang menerima pewartaan injil itu adalah mereka yang dalam mindset kekristenan berada di luar kekristenan. Pada tataran inilah, menurut saya, GPIB sudah mesti memikirkan kembali model ekklesiologinya dengan mempertimbangkan perkembangan konteks masyarakat yang semakin kompleks. Dalam konteks multikultural, setiap identitas kultural diperhadapkan dengan keberadaan identitas yang lain, yang berbeda, yang juga berhak untuk ada. Hal ini membuat setiap kultur perlu menggumuli kembali identitasnya dalam kebersamaannya dengan yang lain, di mana ada penghargaan terhadap identitas kulturalnya, tetapi juga ada ruang bagi keberadaan yang lain GPIB yang sejak tahun 1968 melalui teolog besarnya Maitimoe telah menggulirkan gagasan ‘gereja misioner’, sebuah gagasan besar pada zamannya yang menempatkan semua orang, tanpa terkecuali,  sebagai pelaksana misi. Gagasan gereja misioner GPIB  lahir sebagai ‘anak kandung’ dari rahim pergumulan Indonesia dan negara-negara di Asia karena itu Maitimoe, mendefenisikan “gereja misioner” sebagai: “Prinsip jemaah untuk yang lain, yang kemudian  diperkembangkan atau diperluas menjadi jemaah untuk yang lain dan bersama-sama dengan yang lain, dalam kondisi ekumenis maupun kondisi nasional masa kini, membangun masa depan bersama dan di tengah masyarakat berdasarkan Amanat Kristus”.[14]

Dalam dokumen GPIB yang lebih kemudian yaitu Bahtera Guna Dharma, sebagai salah satu produk sinodal tahun 1982,  dikatakan bahwa GPIB dalam membangun jemaat missioner memperkembangkan dan membina pola : “datang, pergi dan pengembang”, yaitu membangun relasi yang relevan dan komunikatif antara Injil dan dunia. Melalui cara dan bentuk berjemaat missioner, GPIB mengembangkan pemahaman teologia yang relevan agar orang Kristen  sungguh-sungguh dapat hidup untuk orang lain serta bersama dengan masyarakat  membangun kesejahteraan bersama.[15] Hal ini menunjukkan kesadaran kuat GPIB akan realitas konteks yang dihidupi bersama dan untuk masyarakat bangsa di mana gereja berada di dalamnya yang dalam hal ini adalah konteks multikultur.   

Konteks GPIB yang multikultur tidak hanya menyangkut etnisitas, ras, suku, maupun agama saja. Kultur  dalam percakapan multikultur dimaknai lebih luas sebagai seperangkat nilai yang dihidupi suatu kelompok dan menyatukan mereka sebagai bagian dari kelompok tersebut.[16] Ada kesadaran kolektif yang terbangun yang bisa berdasarkan dari kesamaan etnis, ideologi, maupun nasib.

Walau isu-isu sosial yang beragam telah turut membangun struktur masyarakat sebagai  konteks menggereja GPIB yang multikultur menjadi sebuah keniscayaan untuk dihiraukan,  semisal persoalan budaya/kultur (lokal maupun pop), pluralisme, keadilan, kesetaraan gender, HAM, MEA, radikalisme, narkoba/zat-zat adiktif, pemiskinan dan kesejahteraan sesama ciptaan. Struktur masyarakat ini pada gilirannya telah turut memengaruhi pembentukan struktur bergereja yang cenderung eksklusive, primordial, konservatif dan ortodoks, di mana masalah-masalah baru dalam hidup bergereja dan bermasyakat cenderung disikapi dengan cara pandang dan pola lama.

Konteks kemiskinan, sebagai salah satu konteks GPIB, yang makin massive sebagai reaksi atas pertumbuhan ekonomi global yang masih lambat di awal tahun 2016 pada negara-negara berkembang di mana warga miskin relatif banyak mengakibatkan meningkatnya kecemasan upaya peningkatan kesejahteraan bersama di sejumlah negara.[17] Dalam konteks demikian pada satu sisi, dan di sisi yang lain kita mengamati kecenderungan gaya  hidup sebagian masyarakat yang hanya berorientasi pada diri sendiri, berlomba mengejar kenikmatan/kepuasan diri (duniawi), krisis iman, miskin dalam solidaritas terhadap sesama, boros/tidak hidup hemat dan sederhana, lebih menekankan aspek fisik/performance walaupun dengan membayar harga yang sangat mahal bahkan harus berhutang. Dengan demikian diperlukan komitmen membangun spiritualitas manusia GPIB dalam konteks Indonesia yang peka terhadap persoalan-persoalan sosial kemanusiaan. Pada tataran inilah, pendalaman tentang spiritualitas  SDI GPIB menjadi penting di tengah-tengah pusaran arus kehidupan yang bisa mengombang-ambingkan pribadi juga komunitas kristen (baca : GPIB) dan menyeret jauh dari hakikat perjalanan hidup  yang sesungguhnya. Hal itu nampak melalui pola hidup mewah yang menggambarkan sikap hedonis yang marak terjadi di masyarakat. Pola hidup mewah yang tidak sesuai dengan kemampuan atau pendapatan telah menggurita dan berlangsung di berbagai ruang dan telah menjadi salah satu mesin penggerak persoalan-persoalan sosial yang berlangsung di masyarakat semisal pencurian, perampokan, pembunuhan dan penyalahgunaan wewenang/jabatan dalam hal ini korupsi demi memperbesar pundi-pundi.  Korupsi oleh pemerintah Indonesia  telah ditetapkan sebagai kejahatan luarbiasa (extraordinary crime).  Dalam konteks kejahatan luar biasa, dibutuhkan penanganan dan pencegahan korupsi secara luarbiasa pula. Hal tersebut disebabkan korupsi berakar dan berkembang karena struktur ekonomi, kebudayaan dan sistim nilai yang kita miliki, yang didorong oleh ketamakan, pengejaran kekuasaan, pelaksanaan kekuasaan, maupun aktor-aktor politik. Sehingga melawan korupsi sistemik merupakan sebuah tindakan memperjuangkan keadilan dan rahmat Tuhan bagi dunia dan bersama dunia yang cenderung dimiskinkan ini. Ini adalah salah satu konteks menggereja GPIB dewasa ini, pertanyaannya adalah bagaimana agency SDI GPIB bersama warga masyarakat dalam konteks materialisme yang begitu kuat dibangun. Di sini sumber daya insani GPIB memiliki peran strategis dalam perubahan.

Di sinilah upaya berteologi kontekstual GPIB terus berlangsung, yaitu upaya untuk menghayati kebenaran Injil dengan menggali dinamika realitas konteks di mana GPIB hadir, menggali kekayaan kitab suci dengan melakukan konfirmasi dan konfrontasi di atasnya sehingga GPIB dapat membangun teologi, ekklesiologi dan missiologinya sendiri melalui proses kemandirian teologi. Eben Timo mengatakan bahwa upaya gereja untuk meng-“hari-ini”-kan dirinya dimulai dengan keseriusan gereja untuk melakukan gerakan rangkap dua, yaitu gereja memahami diri secara lain dan sekaligus menampilkan diri secara lain. Dan gerakan pertama yang dilakukan gereja adalah dengan meninggalkan paham lama tentang dirinya sebagai institusi keselamatan tetapi melihat dirinya sebagai sakramen keselamatan, artinya gereja bukan pemilik atau sumber keselamatan tetapi laboratorium di mana keselamatan itu ditumbuhkembangkan untuk kemudian diteruskan kepada sesama.[18]  Itu berarti mendengar panggilan  Allah dan menemukan misi Allah bagi serta mewujudkan  bersama sesama secara sungguh-sungguh  adalah hakikatmenggreja kontekstual GPIB. Melalui pembaruan gereja menangkap gerakan Roh menjadi garam dan terang di tengah dan bersama  masyarakat. Pembaruan hanya mungkin karena sikap terbuka terhadap Yesus sebagai instansi kritis untuk memaknai tanda-tanda zaman. Bagi GPIB sangat jelas, yaitu menjadi komunitas iman yang peka terhadap situasi Gereja dan masyarakat dengan sanggup menanggapi secara fungsional dan kontekstual kehadiran dirinya.

Karena itu ada beberapa pertanyaan pendalaman yang perlu dilakukan, yaitu :

  1. Sejauhmana komunitas GPIB yang terluka dan disembuhkan mampu menyembuhkan ?
  2. Bagaimana model pemberdayaan sumber daya insani GPIB dikembangkan dalam rangka menjadi agency dalam masyarakat multikultur Indonesia?

Selamat berdiskusi !

 

[1] North, The Suffering Servant In Deuteri Isaiah, London, 1948, h. 147

[2] E.G. Singgih, Dunia yang bermakna, Jakarta, Persetia, 1999, h. 1

[3] E.G. Singgih, Dunia yang……,  h. 2

[4] Geoffrey W. Bromiley, The International Standard Bible Encyclopedia, Ilustrated in Four Volume, Michigan, 1988, h. 832

[5] R. N. Whybray, New Century Bible Isaiah 40-66, Butler, h. 70

[6] R. N. Whybray, New Century Bible…., h. 74

[7] E.G. Singgih, Dunia yang………. , h. 7

[8] Clauss Westermann, Isaiah 40-66 : A Commentary, SCM, Press, LTD, 1978, h. 100

[9] Clauss Westermann, Isaiah 40-66…………, h.100-101

[10] The Interpreters Bible in The KJV and RSV, Volume V, h. 469

[11] E.G. Singgih, Penyembuh Yang Terluka, Komunitas Kristiani dan Perjuangan mematahkan lingkaran kekerasan di Indonesia, 2000, h. 8

[12] Maitimu; Pembinaan Jemaat Misioner, BPK Gunung Mulia Jakarta, 1978, h.194.

[13] Maitimu; Pembinaan Jemaat Misioner……, h.197-199

[14]   Maitimoe, Pembangunan Jemaat Misioner, Jakarta: Institut Oikumene Indonesia DGI, 1978, h. 30-31.

[15]     Majelis Sinode GPIB, Bahtera Guna Dharma, BPK Gunung Mulia, Jakarta,  h. 78-79

[16] Bikhu Parekh, Rethinking Multiculturalism, (Yogyakarta: Impulse, 2008), p.195-7; Amy Gutmann (ed) Multiculturalism, (Princeton: Princeton University Press, 1994), h. x-xi

[17] www.beritasatu.com bankdunia2016 

[18] Ebenhaizer I Nuban Timo, Umat Allah di Tapal Batas, Percakapan tentang Gereja jilid II : Masa kini Gereja, Majelis Sinode GMIT, 2010, h.4