1 Timotius 6: 11- 21

1 Timotius 6: 11- 21

 

  1. Latar Belakang Surat Timotius.

Surat Timotius digolongkan sebagai surat pastoral. Disebut sebagai surat Pastoral karena berisi petunjuk mengenai bagaimana jemaat Tuhan harus digembalakan. Surat ini ditulis tidak kepada jemaat-jemaat sebagaimana layaknya surat Rasul Paulus lainnya, namun Surat-surat Pastoral ini dituliskan kepada dua orang Kristen muda, yaitu Timotius yang ada di Efesus dan kepada Titus yang ada di Pulau Kreta.

Timotius merupakan “asisten” sekaligus mitra kerja Paulus dalam memberitakan Injil.  Tuhan mempertemukan Timotius dengan rasul Paulus di Listra (Kis. 16:1-3). Dalam suarat-surat Paulus, Timotius disebut sebagai satu-satunya orang yang sehati dan sepikir dengan Paulus dan yang tidak mencari kepentingannya sendiri, melainkan kepentingan Kristus (Flp. 2:21,22). Hubungan antara Paulus dengan timotius akrab sekali sama seperti ayah dan anak.

Surat kepada Timotius ini berisi  petunjuk-petunjuk tentang bagaimana menata jemaat-jemaat dan melawan ajaran sesat. Paulus sedang menyiapkan Timotius untuk mengambil alih tugas dari padanya sebagai generasi penerus tradisi dan kekayaan gereja.

Surat Paulus kepada Timotius memberi gambaran mengenai gereja dengan perkembangan organisasi gerejawi yang demikian baik. Di sana ada penatua, penilik jemaat dan diaken. Di sini jelas adanya struktur gereja yang rinci.

Selain itu, jemaat di Efesus juga mengalami tekanan-tekanan dari para penguasa. Kekristenan mengalami penganiayaan yang luar biasa dari penguasa. Jemaat juga mengalami kebingungan dengan banyaknya pengajar-pengajar sesat dengan aliran-aliran sesatnya. Karena merupakan kota pelabuhan dan perdagangan, jemaat sulit untuk menghindari hal tersebut. Hal disebabkan karena kehidupan kota mereka juga bergantung dari datangnya pedagang-pedagang Yunani yang biasanya juga membawa penyembahan berhala. Bahkan mereka juga hidup dari biaya upacara-upacara tersebut. Namun jemaat tetap diminta untuk selalu berdoa kepada setiap orang dalam tekanan-tekanan tersebut. Hal inilah yang merupakan kewajiban sebagai warga negara, yaitu mendoakan negaranya sehingga dapat hidup dengan tenteram dan damai.

 

  1. Telaah Perikop.

Ayat 11-12: Paulus menyebut Timotius sebagai , “Manusia Allah”.  Itu adalah kata yang luar biasa. Dalam Perjanjian Lama gelar ini diberikan untuk para nabi, namun, dalam Perjanjian Baru, hanya Timotius yang dipanggil dengan sebutan ini.

Apa yang harus dilakukan oleh seorang “manusiaAllah”?. Ada tiga kata kerja penting di sini yang menandai apa yang dikatakan Paulus. Timotius harus melakukan: Pertama, “menjauhi semua ini”; kedua, “mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan”; dan ketiga, “Bertanding dalam pertandingan iman yang benar untuk merebut hidup yang kekal”.

Ayat 13-16: Berisi nasehat penguatan Paulus kepada Timotius.  Pertama, Allah adalah Pemberi kehidupan. Karena Tuhan sebagai pemberi kehidupan maka dalam menghadapi tantangan dalam pelayanan, Tuhan akan selalu memberi semangat baru, vitalitas baru dan kekuatan.

Selanjutnya, Paulus melanjutkan dengan mengingatkan Timotius bahwa, meskipun Yesus dihukum mati dalam kelemahan, dia akan datang kembali sebagai Tuhan atas kehidupan, fokus dari semua sejarah.

Keyakinan iman seperti itu menjadi pedoman yang harus tertanam dalam kehidupan Timotius dan setiap orang percaya bahwa Tuhan penguasa kehidupan kita. Tidak ada suatu kuasa dan kekuatan apapun di dunia ini yang sanggup menghalangi maksud dan rencana Tuhan bagi dunia ini.

Ayat 17-21: Berisikan tugas kepada Timotius untuk memperingatkan orang kaya (orang yang mempertuhankan kekayaan duniawi) untuk hidup mengandalkan Tuhan dan merubah paradigma sikap dan pikiran mereka tentang hal-hal duniawi. Dimata Tuhan seorang Kristen harus menjadi kaya dalam kebajikan. Kekayaan seperti itulah yang akan menjadi berkat bagi banyak orang.

Juga peringatan agar menjaga kekudusan  hidup dengan menghindari pembicaraan yang tidak memuliakan Tuhan dan dapat merusak kehidupan persekutuan anak2 Tuhan.

 

III .  Pokok- pokok Renungan.

Dari perikop ini kita belajar bahwa:

  1. Gereja selalu diperhadapkan dengan pelbagai tantangan. Pengalaman Jemaat GPIB bercerita tentang realitas tersebut. Tantangan dari luar dan juga dari dalam.
  2. Sama seperti Timotius, Kitapun dipanggil dan diutus oleh Kristus, Kepala Gereja untuk tidak berhenti melayani dan bersaksi di dunia, dimana Tuhan menempatkan kita.
  3. Ketiga kata kerja pada ayat 11 dan 12 harus menjadi aktifitas kehidupan sehari-hari kita (sebagai gereja/ orang percaya masa kini).
  4. Salah satu ciri kehidupan orang beriman adalah kaya dalam kebajikan untuk menjadi berkat di tengah keluarga dan masyarakat.
  5. Isi dari percakapan orang beriman adalah kebenaran tentang Tuhan dan selalu berusaha menghindari percakapan yang merusak kemuliaan Tuhan dan mendatangkan perpecahan dalam kehidupan anak2 Tuhan.