Berserah Diri

Dalam budaya persaingan zaman ini kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk, jadi kita tidak banyak mendengar tentang menyerah. Jika menang adalah hal yang amat penting, maka menyerah tidaklah terpikirkan. Kita lebih suka berbicara tentang soal menang, berhasil, mengalahkan, menaklukkan dari pada tentang mengalah, tunduk, taat, dan menyerah. Tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan adalah inti penyembahan. Itu merupakan tanggapan wajar terhadap kasih dan belas kasihan Tuhan yang mengherankan. Kita memberi diri kita kepada Dia, bukan karena takut atau wajib, melainkan di dalam kasih,”karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita”(1Yohanes 4:9-10, 19). Setelah menggunakan 11 pasal dari Kitab Roma untuk menjelaskan tentang kasih karunia Tuhan yang ajaib kepada kita, Paulus mendorong kita untuk sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada Tuhan di dalam penyembahan. Ibadah yang sejati, yaitu mendatangkan kesenangan bagi Tuhan, terjadi bila kita memberi diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Mempersembahkan diri kepada Tuhan itulah yang dimaksud dengan penyembahan. Tindakan berserah diri ini disebut dengan banyak hal: penyucian, menjadikan Yesus Tuhan Anda, memikul salib Anda, mati bagi diri sendiri, berserah diri kepada Roh Kudus. Yang penting adalah bahwa Anda mengerjakannya, bukan sebutan apa yang Anda gunakan untuknya. Tuhan menginginkan kehidupan Anda, seluruhnya. Sembilan puluh lima persen tidaklah cukup.