Berserah Diri

Oleh: SMT GULTOM

Menjelang akhir tahun 2013, dan di Indonesia pada tahun 2014 akan menghadapi pergantian suksesi kepemimpinan nasional. Dapat dibayangkan berbagai kesibukan setiap individu guna mempersiapkan semua yang berkenaan dengan hal-hal keduniawian semata. Sesuai dengan Firman Tuhan bahwa masa ini adalah masa yang sukar dan akan semakin sukar. Harus dicamkan ini bukan zaman damai atau zaman kelimpahan secara duniawi dimana orang percaya tidak lagi menghadapi tantangan dan percobaan hidup. Ini adalah masa perang, masa konflik rohani yang paling sukar. Untuk ini kita membutuhkan kecerdasan roh yang tinggi dan pengurapan yang baru agar kita sanggup menghadapi masa-masa yang sukar ini. Iblis sungguh-sungguh berusaha menghancurkan pekerjaan Tuhan dan membunuh iman orang percaya. Orang percaya akan makin diperhadapkan dengan berbagai tantangan yang mengancam iman dan kesetiaan yang murni kepada Kristus. Kita harus mengenali ancaman-ancaman tersebut dan menemukan cara mengantisipasinya.

Berserah diri adalah kata yang tidak popular, yang tidak disukai hampir seperti kata tunduk. Kata tersebut menyiratkan makna kalah, dan tidak seorangpun ingin menjadi pecundang. Berserah diri menimbulkan gambaran tidak enak, yaitu mengaku kalah dalam pertempuran, kalah dalam suatu permainan, atau menyerah pada musuh yang lebih kuat. Kata tersebut hampir selalu digunakan dalam konteks yang negatif. Para penjahat yang tertangkap menyerahkan diri kepada penguasa.

Dalam budaya persaingan zaman ini kita diajar untuk tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk, jadi kita tidak banyak mendengar tentang menyerah. Jika menang adalah hal yang amat penting, maka menyerah tidaklah terpikirkan. Kita lebih suka berbicara tentang soal menang, berhasil, mengalahkan, menaklukkan dari pada tentang mengalah, tunduk, taat, dan menyerah. Tetapi menyerahkan diri kepada Tuhan adalah inti penyembahan. Itu merupakan tanggapan wajar terhadap kasih dan belas kasihan Tuhan yang mengherankan. Kita memberi diri kita kepada Dia, bukan karena takut atau wajib, melainkan di dalam kasih,”karena Tuhan lebih dahulu mengasihi kita”(1Yohanes 4:9-10, 19). Setelah menggunakan 11 pasal dari Kitab Roma untuk menjelaskan tentang kasih karunia Tuhan yang ajaib kepada kita, Paulus mendorong kita untuk sepenuhnya menyerahkan hidup kita kepada Tuhan di dalam penyembahan. Ibadah yang sejati, yaitu mendatangkan kesenangan bagi Tuhan, terjadi bila kita memberi diri kita sepenuhnya kepada Tuhan. Mempersembahkan diri kepada Tuhan itulah yang dimaksud dengan penyembahan. Tindakan berserah diri ini disebut dengan banyak hal: penyucian, menjadikan Yesus Tuhan Anda, memikul salib Anda, mati bagi diri sendiri, berserah diri kepada Roh Kudus. Yang penting adalah bahwa Anda mengerjakannya, bukan sebutan apa yang Anda gunakan untuknya. Tuhan menginginkan kehidupan Anda, seluruhnya. Sembilan puluh lima persen tidaklah cukup.

Ada tiga penghalang yang merintangi penyerahan diri total kita kepada Tuhan: ketakutan, keangkuhan, dan kebimbangan. Kita tidak menyadari betapa Tuhan sangat mengasihi kita, kita ingin mengendalikan hidup kita sendiri, dan kita salah memahami makna dari berserah diri. Percaya adalah unsur yang sangat diperlukan untuk berserah diri. Anda tidak akan berserah diri kepada Tuhan kecuali jika Anda mempercayai-Nya, tetapi Anda tidak bisa mempercayai-Nya sebelum Anda mengenal Dia dengan lebih baik. Ketakutan menghalangi kita untuk berserah diri, tetapi kasih membuang segala ketakutan. Semakin Andamenyadari betapa besarnya Tuhan mengasihi Anda, semakin mudah penyerahan diri jadinya.

Bidang yang paling sulit untuk diserahkan bagi banyak orang adalah uang mereka. Banyak orang berpikir,”Aku ingin hidup bagi Tuhan tetapi aku juga ingin memperoleh cukup uang untuk hidup dengan nyaman dan pensiun suatu saat.”Pensiun bukanlah tujuan dari kehidupan yang berserah, karena pension akan bersaing dengan Tuhan untuk memperoleh perhatian utama kehidupan kita. Yesus berkata,”Kamu tidak dapatmengabdi kepada Tuhan dan kepada mammon dan karena di mana hartamu berada, disitu juga hatimu berada”(Matius 6:21-24)

Teladan terbesar dari penyerahan diri adalah Yesus. Malam sebelum Dia disalibkan, Yesus menyerahkan diri-Nya kepada kehendak Bapa di surga.

Alkitab sangat jelas tentang bagaimanaAnda memperoleh keuntungan bila Anda sepenuhnya menyerahkan kehidupan Anda kepada Tuhan. Pertama, Anda mengalami ketentraman, selanjutnya Anda mengalami kemerdekaan dan ketiga, Anda mengalami kuasa Tuhan di dalam kehidupan Anda. Pencobaan-pencobaan yang susah hilang dan masalah-masalah yang menguasai bisa dikalahkan oleh Kristus bila diserahkan kepada-Nya. (Ayub 22:21 dan Roma 6:17).

Orang-orang yang berserah diri adalah orang-orang yang Tuhan pakai. Tuhan memilih Maria untuk menjadi ibu Yesus, bukan karena dia berbakat atau kaya atau cantik, tetapi karena dia sepenuhnya berserah diri kepada-Nya. Tempatkan Yesus Kristus di kursi pengemudi dari kehidupan Anda dan lepaskan tangan Anda dari kemudi. Janganlah takut, tidak ada apapun di bawah kendali-Nya yang bisa lepas kendali.

Tuhan Yesus memberkati kita.